--> Skip to main content

Model Pembelajaran Student Team Achevement Division (STAD)

Model pembelajaran Student Team Achevement Division (STAD) adalah model pembelajaran kooperatif yang dilakukan dengan cara membagi peserta didik kedalam beberapa kelompok kecil dengan kemampuan akademik yang berbeda-beda agar saling bekerjasama dalam menyelesaikan tujuan pembelajaran (Huda, 2015, hlm. 201).

Model pembelajaran STAD ini dikembangkan oleh Robert Slavin dan rekan-rekannya di Universitas John Hopkins. Gagasan utama STAD adalah memacu siswa agar saling mendorong dan membantu satu sama lain untuk menguasai keterampilan yang diajarkan guru (Slavin dalam Rusman, 2018, hlm. 214).

Berdasarkan penjelasan Slavin (2015, hlm. 143), STAD merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dan merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi para guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif.

Dapat disimpulkan bahwa STAD adalah model pembelajaran kooperatif yang memacu kerja sama siswa melalui belajar dalam kelompok yang anggotanya beragam baik dalam kemampuan akademik maupun latar belakang agar tercipta saling mendorong dan membantu satu sama lain dalam suasana sosial yang beragam untuk menguasai keterampilan yang sedang dipelajari.


Berikut adalah definisi Model Pembelajaran STAD menurut beberapa Ahli:

1. Robert Slavin
Slavin mengungkapkan bahwa model pembelajaran STAD adalah strategi pembelajaran yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan suatu tim berkemampuan majemuk berlatih untuk mempelajari konsep dan keahlian secara bersama-sama (Slavin dalam Suherti dan Rohimah, 2016, hlm. 83).

2. Rusman
Model pembelajaran STAD adalah model yang dalam pembelajarannya siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 4-5 orang yang mempunyai keragaman dalam kemampuan, jenis kelamin, hingga sukunya (Rusman, 2018).

3. Trianto
Menurut Trianto (2017, hlm. 68) Student Team Achievement Division (STAD) merupakan salah satu model dari pembelajaran kooperatif yang menggunakan kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-5 peserta didik secara heterogen.

4. Anas
Pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah pembelajaran yang terdiri dari lima komponen utama dalam pembelajaran yaitu penyajian kelas, belajar dalam kelompok, pengerjaan kuis, skor pengembangan dan penghargaan terhadap kelompok (Anas, 2014, hlm. 57).

5. Endang Mulyatiningsih
STAD merupakan strategi pembelajaran kooperatif yang memadukan penggunaan metode ceramah, questioning dan diskusi. (Mulyatiningsih, 2012).

Prinsip/Komponen Utama STAD

Menurut Slavin (2015, hlm. 143) yang merupakan pencipta model STAD,  pembelajaran ini terdiri atas lima komponen utama, yakni:

  1. Presentasi kelas (Class presentation)
    Merupakan penyajian materi yang dilakukan oleh guru secara klasikal dengan cara presentasi verbal atau teks yang fokus terhadap konsep-konsep dari materi yang dibahas. Melalui cara ini, siswa diharapkan akan menyadari pentingnya memberi perhatian penuh selama presentasi kelas, karena akan membantu dalam mengerjakan kuis-kuis. Setelah penyajian materi siswa bekerja pada kelompok untuk menuntaskan materi pelajaran melalui tutorial, kuis atau diskusi.
  2. Kerja Tim (Team Works)
    Komponen ini adalah bagian yang sangat penting dalam STAD karena dalam tim atau kelompok harus tercipta suatu kerjasama antar siswa yang beragam untuk mencapai kemampuan akademik yang diharapkan. Tim terdiri dari 4-5 orang siswa yang memprioritaskan heterogenitas (keberagaman) kelas dalam prestasi akademik, gender/jenis kelamin, ras atau etnik.
  3. Kuis atau Tes (Quiz)
    Tes individual diberikan kepada siswa setelah melaksanakan satu atau dua kali penyajian kelas dan bekerja serta berlatih dalam kelompok. Siswa harus menyadari bahwa skor yang diperoleh setiap individu akan diakumulasikan menjadi skor kelompok.
  4. Skor Kemajuan Individual (Individual improvement score)
    Penilaian individual berguna untuk memberikan motivasi kepada siswa untuk bekerja keras memperoleh hasil yang lebih baik dari hasil skor yang sebelumnya. Skor kemajuan individual dihitung berdasarkan skor dasar dan skor tes. Skor dasar adalah nilai dari skor tes terakhir siswa yaitu nilai pretest yang dilakukan oleh guru sebelum melaksanakan pembelajaran STAD.
  5. Rekognisi Tim (Team recognition)
    Rekognisi tim atau pengakuan kelompok dilakukan dengan memberikan penghargaan atas usaha yang dilakukan oleh kelompok selama proses pembelajaran. Tim akan mendapatkan sertifikat atau bentuk penghargaan yang lain apabila skor rata-rata kelompok mencapai kriteria tertentu melalui penghitungan skor individu dan skor kelompok.

Langkah Kerja (Sintak) Model Pembelajaran STAD

Tahapan STAD ditempuh melalui langkah - ­langkah berikut.

  1. Guru menyampaikan materi pembelajaran berdasarkan kompetensi dasar yang akan dicapai. 
  2. Guru memberikan tes kepada setiap peserta didik secara individu. Pemberian tes dimaksudkan untuk memperoleh skor awal. 
  3. Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri atas 4–5 orang dengan latar belakang pengetahuan, etnik, ras, dan agama berbeda. 
  4. Setiap kelompok mendiskusikan suatu masalah atau materi tertentu. Setelah selesai berdiskusi, tiap­ - tiap anggota kelompok harus memahami materi dan saling mengoreksi. Selanjutnya, setiap anggota kelompok menguatkan pemahaman teman kelompoknya. 
  5. Guru memfasilitasi peserta didik membuat rangkuman. Guru mengarahkan dan memberikan penguatan terkait materi pembelajaran. 
  6. Guru membubarkan kelompok. Selanjutnya, guru memberikan kuis terkait materi yang telah didiskusikan. Nilai kelompok STAD ditentukan oleh skor yang diperoleh tiap - ­tiap anggota kelompok.
Untuk lebih jelas perhatikan tabel berikut
Langkah Kerja
Aktivitas Guru
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Menyampaikan semua tujuan yang ingin dicapai selama pembelajaran dan memotivasi siswa belajar.
Menyajikan informasi
Menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bacaan.
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar Menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
Membimbing kelompok dalam bekerja dan belajar Membimbing kelompok-kelompok belajar yang telah terbentuk pada saat mereka mengerjakan tugas.
Evaluasi Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau meminta kelompok presentasi hasil kerja.
Memberikan penghargaan Menghargai upaya hasil belajar baik upaya individu maupun kelompok.

Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran STAD

Sama halnya dengan model - model pembelajaran lainnya, model pembelajaran STAD juga memiliki kekurangan dan kelebihannya masing - masing, Berikut ini beberapa kelebihan dan kekurangan model STAD:

1. Kelebihan Pembelajaran STAD

Kurniasih dan Sani (2015, hlm. 22) memaparkan kelebihan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Adapun kelebihan dari penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD antara lain sebagai berikut:

  • Meningkatkan kepecayaan diri dan kecakapan individual.
  • Interaksi sosial terbangun dalam kelompok, siswa dapat dengan sendirinya belajar ketika bersosialisasi dengan lingkungannya (rekan kelompoknya).
  • Siswa diajarkan untuk membangun komitmen dalam mengembangkan potensi kelompoknya.
  • Mengajarkan untuk menghargai orang lain dan saling percaya.
  • Aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan kelompok.

Sementara itu, menurut Slavin (2015, hlm. 103) kelebihan model pembelajaran STAD adalah sebagai berikut:

  • Setiap siswa memiliki kesempatan untuk memberikan kontribusi yang substansial kepada kelompok dan posisi anggota kelompok.
  • Menggalakan interaksi secara akti dan positif sehingga bentuk kerjasama anggota kelompok yang menjadi lebih baik.
  • Membantu siswa untuk memperoleh hubungan pertemanan lintas ras, suku, agama, gender, kemampuan akademis yang lebih banyak dan beragam.

2. Kelemahan Pembelajaran STAD

Sedangkan kelemahan dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD menurut Kurniasih dan Sani (2015, hlm. 22) yakni sebagai berikut:

  • Bila ditinjau dari sarana kelas, maka mengatur tempat duduk untuk kerja kelompok sangat menyita waktu. Hal ini biasanya disebabkan belum tersedianya ruangan-ruangan khusus yang memungkinkan secara langsung dapat digunakan untuk belajar kelompok.
  • Jumlah siswa yang besar (kelas gemuk) dapat menyebabkan guru kurang maksimal dalam mengamati kegiatan belajar, baik secara kelompok maupun secara perorangan.
  • Guru dituntut bekerja cepat dalam menyelesaikan tugas-tugas yang berkaitan dengan pembelajaran yang dilaksanakan, di antaranya mengoreksi pekerjaan siswa, menghitung skor perkembangan maupun menghitung skor rata-rata kelompok yang harus dilakukan pada setiap akhir pertemuan.
  • Menyita waktu yang banyak dalam mempersiapkan pembelajaran.

Selain itu, Ibrahim dkk (dalam Suherti dan Rohimah, 2016, hlm. 92) menyebutkan beberapa kekurangan model STAD yaitu sebagai berikut:

  • Menyita waktu yang cukup lama.
  • Siswa yang memiliki tingkat akademik lebih unggul cenderung enggan apabila disatukan dengan temannya yang kurang. Kemudian, siswa yang akademiknya lebih rendah akan merasa minder ketika disatukan dengan temannya yang pandai.

Demikian uraian singkat tentang Model Pembelajaran Student Team Achevement Division (STAD), tulisan ini di kutif dari beberapa sumber :

  • https://serupa.id/model-pembelajaran-stad/
  • Buku guru "aktif berolahraga" kelas VI SD
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar